Thursday, April 23, 2009

Doa Gadis Cilik

(Diceritakan oleh Helen Roseveare, dokter misionaris asal Inggris yang melayani di Zaire (dahulu Kongo) di benua Afrika)

"Suatu malam saya berusaha keras menolong seorang ibu yang sedang melahirkan; tetapi meskipun kami sudah berusaha sekuat tenaga kami ibu itu meninggal dunia dan meninggalkan seorang bayi yang lahir prematur dan seorang anak wanita berusia dua tahun yang tak henti-hentinya menangis. Kami mengalami kesulitan untuk mempertahankan bayi yang lahir prematur tadi untuk tetap hidup karena kami tidak punya inkubator. (Lagipula di tempat kami belum ada listrik untuk mengoperasikan inkubator).

Meskipun kami ada di daerah khatulistiwa, malam hari di sini seringkali bertiup angin malam yang dingin. Seorang calon bidan pergi mengambil kotak bayi dan selimut wool untuk membungkus sang bayi. Seorang lagi pergi menyalakan api dan mengisi botol air panas. Tak lama kemudian ia kembali dengan wajah kesal dan memberitahukan pada saya bahwa botol air panasnya pecah waktu diisi. (Karet mudah menjadi rusak di daerah tropis) "Itu botol air panas kita yang terakhir!" serunya.

Susu yang tumpah sudah tidak ada gunanya kata peribahasa Barat, dan di Afrika Tengah tak ada gunanya pula bersedih karena botol air yang pecah. Botol air tidak tumbuh di pohon dan tidak ada apotik/toko obat di pinggir hutan.

"Ya sudah," kataku, " taruhlah bayi itu sedekat mungkin dengan api tapi masih cukup aman dan engkau tidurlah di antara bayi itu dan pintu supaya dia tidak kena angin. Jaga dia supaya tetap hangat."

Keesokan harinya, seperti biasanya, siang itu saya bertemu dengan beberapa anak yatim piatu asuhan kami untuk persekutuan doa. Saya memberikan beberapa pokok doa pada anak-anak itu dan menceritakan kepada mereka tentang bayi mungil yang lahir prematur itu. Saya memberitahu mereka kesulitan saya untukmenjaga agar si bayi tetap hangat dan juga tentang botol air panas yang pecah. Bayi mungil itu dapat meninggal dengan mudah bila terserang angin malam.Saya juga menceritakan tentang kakaknya yang berusia 2 tahun yang terus menerus menangis karena ibunya meninggal.

Pada waktu kami berdoa, Ruth yang baru berusia 10 tahun berdoa dengan tegas,singkat dan tanpa basa-basi. Anak-anak Afrika memang begitu umumnya. "Tuhan,tolong," dia berdoa,"kirimkan kami sebuah botol air. Kirimkan botolnya sore ini ya Tuhan...kalo besok soalnya sudah terlambat dan bayinya akan mati"

Saat hati saya tercekat mendengar "kekurang ajaran" doanya, dia menambahkan,"mumpung Tuhan menyiapkan hal itu, sekalian kirimkan juga sebuah boneka untuk kakaknya...supaya dia tahu Engkau sangat mencintainya, ya Tuhan?

Seperti doa seorang anak umumnya, saya kehilangan kata-kata. Dapatkah saya dengan segala kejujuran meng-aminkan doanya. Saya agak kurang percaya Tuhan dapat melakukannya.

Oh saya tahu Tuhan itu Maha Kuasa dan mampu melakukan apapun juga. Alkitab bersaksi begitu. Tetapi...bukankah ada "batas"-nya? Satu-satunya cara Allah dapat mengabulkan doa gadis cilik itu adalah dengan mengirimkan bingkisan/paket dari Inggris. Saya sudah empat tahun tinggal di Afrika pada waktu itu dan saya belum pernah sekalipun menerima paket dari tanah air saya. Lagipula, kalau pun ada yang mengirim paket, siapakah yang terpikir untuk mengirim botol air?

Saya tinggal di khatulistiwa!

Menjelang sore, ketika saya sedang mengajar di sekolah juru rawat, saya menerima pesan bahwa ada sebuah mobil berhenti di depan rumah saya. Saat saya sampai di rumah, mobilnya sudah pergi tetapi di beranda ada sebuah paket/bungkusan seberat 10 kilogram. Saya merasa mata saya perih karena air mata mulai mengembang. Saya tidak dapat membuka paket ini sendiri dan saya menyuruh orang memanggil anak-anak yatim piatu tadi. Bersama-sama kami membuka paket itu dengan hati-hati...talidemi tali...kertas demi kertas.

Rasa tegang menghinggapi kami semua. Tiga puluh sampai empat puluh pasang mata terpaku pada kardus pembungkus paket itu. Dari atas saya mengeluarkan baju-baju berwarna cerah. Mata mereka bersinar melihat baju-baju itu. Lalu ada perban untuk pasien kami yang terkena kusta dan anak-anak tadi kelihatan bosan. Lalu ada sebuah kotak berisi kismis dan biskuit manis - lumayan untuk penambah menu akhir minggu kami.

Lalu ketika saya memasukkan tangan saya kembali saya merasakan ...apa mungkin? Saya menggenggamnya dan menarik tangan saya keluar dan ya .. sebuah botol air panas yang masih baru!

Air mata saya tumpah keluar. Saya tidak pernah meminta Tuhan untuk mengirimnya; saya tidak percaya Dia dapat melakukannya. Ruth yang berdiri di baris depan segera menyerbu dan berteriak," Kalau Tuhan mengirim botolnya, Dia pasti mengirim bonekanya juga!"

Tanganya mencari-cari sampai ke dasar kardus dan waktu dia menarik keluar tangannya, dia memegang sebuah boneka kecil yang cantik. Mata Ruth berkilat-kilat! Dia tidak pernah meragukan. Berpaling pada saya dia bertanya,"Bolehkah saya ikut Ibu untuk memberikan boneka ini pada gadis cilik itu Ibu, agar dia tahu Tuhan sangat menyayanginya?"

Paket tadi sudah ada dalam perjalanan lima bulan lamanya. Dikirim oleh anak-anak sekolah Minggu yang pernah saya asuh. Guru mereka yang sekarang mendengar dan mematuhi bisikan Allah di hatinya untuk mengirimkan sebuah botol air panas. Seorang anak dari kelas tersebut menaruh sebuah boneka kecil yang cantik untuk seorang gadis cilik di Afrika -- lima bulan sebelumnya -- untuk menjawab doa penuh iman dari seorang anak berusia sepuluh tahun untuk mengirimkannya sore itu juga!

"Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya"
-- Yesaya 65:24

oleh Helen Roseveare (All rights reserved)
-- Diterjemahkan oleh Roy Adriaan

Saudara-saudariku janganlah berputus asa dan jemu berdoa ... jawaban atas doamu sedang dalam perjalanan. Haleluya!

4 comments:

crystabell fitri said...

God is amazing....Praise the Lord!

arfan said...

bagus bangett...GOD NEVER SLEEP....

Tumboro Nadeak said...

Tuhan slalu tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita meminta..

marina silalahi said...

Sama halnya dengan aku juga :)
Love You Yesus my Lord.